Pages

Senin, 28 Januari 2013

Hargailah Indeks Prestasi Anda !


Jika anda berkata "IP atau IPK itu tidak penting" maka sama halnya dengan anda tidak menghargai usahamu sendiri selama satu semester ini. Ingatlah, dua orang yang jauh disana yang membuatmu menjadi seorang "mahasiswa" sedang menantikan hasil belajarmu di semester ini.

Apakah IP semester  ini sudah memenuhi target ?
Jika ada pertanyaan seperti ini sebagian besar mahasiswa menyatakan belum. 
Apa alasannya ?
Apa karena terlalu mematok tinggi target IP yang tidak sesuai kemampuan atau karena mematok kadar kemalasan lebih tinggi. Yupz, ternyata setelah dilakukan introspeksi bersama-sama ditemukanlah 5 masalah dominan kenapa mahasiswa merasa kesulitan mencapai IP yang sudah ditargetkan :
1. Manajemen Waktu
2. KeMALASan
3. Kesehatan
4. KeSIBUKan di Organisasi
5. Masalah Psikologis


Mari kita kaji satu persatu 

1. Manajemen waktu (Membagi waktu untuk belajar)

Perlu diketahui sehebat apapun kamu, SUNGGUH WAKTU TIDAK AKAN PERNAH BISA DIBAGI-BAGI. Yang bisa kamu bagi adalah kegiatan kamu, mulai sekarang buatlah daftar prioritas kegiatan beserta waktu pelaksanaannya. Bisa harian, bulanan, atau tahunan. Penjelasan tentang hal ini bisa kamu baca lebih lengkap di buku-buku motivasi. Contoh: Jangan kuliah kalau gak sukses !

2. KeMALASan


Malas adalah satu hal yang wajar, bukankah hal ini telah diturunkan dari nenek moyang ke anak cucu selama berabad abad ? hhe. Bahkan rasa malas inilah yang mengilhami banyak orang untuk melakukan inovasi. Kemalasan seseorang untuk berjalan jauh akhirnya mendorong seseorang untuk menciptakan sepeda. Ambil hikmahnya ! Mahasiswa calon sarjana pasti punya cara jitu dong untuk mencapai nilai A meski malas belajar. Tapi ingat bukan dengan jalan NYONTEK yah. Kamu sekarang boleh nyaman dengan hasil yudisium yang “Sangat Memuaskan”, tapi jika bukan karena hasil belajar dan memahami materi , percayalah, suatu saat nanti IPK kamu akan dimintai pertanggungjawaban. Ibaratnya IPK hanya sementara tapi keahlian itu abadi.
Jangan sampai ada kata-kata begini “Gayanya sih intelek ke mana-mana bawa laptop, ternyata cuma buat facebook-an, pas di suruh bikin RPP, TPK aja salah. Pas ditanyain, satu kelas cuma ngek ngok nggak ada yang bisa jawab”. Ops ngutip kata-kata siapa yah ? Ambil Intisarinya, masih untung yang menyampaikan orang yang sudah kita kenal, coba kalau yang menyampaikan guru senior pas PPL ? Gak keren kan ? Bisa-bisa nama baik kita tercemar bahkan almamater juga ikut-ikutan ke bawa. Bisa Gawat. Sekali lagi “Ubahlah kemalasan menjadi pemicu inovasi”.

3. Kesehatan 
Tak ada musibah tanpa sebab, habislah sia-sia jika kamu tak segera mencari tahu apa penyebabnya. Jadi, koreksi baik-baik jangan-jangan sakit yang kamu alami merupakan akibat dari kesalahan pribadi. Salah makan, salah tidur, dan salah-salah yang lain.

4. KeSIBUKan di Organisasi
Masalah no. 4 ini jangan lagi dijadikan alasan yah. Lirik kakak-kakak yang sukses di akademik meski organisasi kemahasiswaannya getol. Jangan tiru kebiasaan kakak-kakak yang merelakan kuliah demi organisasi atau kegiatan non-akademik. Sebab, niat awal orang tua menguliahkan kamu untuk kuliah bukan untuk yang lain. Jadikan organisasi atau kegiatan non-akademik itu sebagai sampingan. Bagaimanapun utamakan kuliah. Sebaik apapun soft skill kamu dalam berorganisasi, jika tidak ahli di bidang yang kamu pelajari, bisa jadi tanda tanya besar jangan-jangan cuma kelihatan keren aja tapi isinya kosong. Berpikirlah ke depan saat kamu mulai bekerja di dunia yang sebenarnya. Berarti sekarang masih dunia khayalan dong, hihihihi. Sekali lagi, utamakan akademik, perkuat dengan organisasi. 

5. Masalah Psikologis
Nah, ini juga yang jadi masalah utama mahasiswa. Beban pikiran yang disebabkan sebuah permasalahan. Jika tidak segera ditanggulangi , akan terjadi stres dan berdampak pada komanya kemampuan belajar . Bukankah permasalahan adalah ujian menuju dewasa ? Sebelum terlanjur, perbanyaklah mendekatkan diri pada Allah SWT. Tidak ada manusia yang sukses dunia akhirat tanpa kekuatan do’a. Perbanyak tahajud, puasa, ngaji, tafakur alam, yang non-muslim bisa lakukan anjuran sesuai kepercayaan kamu. Selain itu carilah sahabat atau siapa saja yang menurut kamu bisa membantu menyelesaikan permasalahan kamu. Ingat, yang betul-betul bisa membantu dengan cara yang baik. Pakai mata hati kamu, pasti ketemu teman curhat yang baik.

Nah setelah membahas 5 masalah dominan yang sering dialami mahasiswa, sekarang saatnya menentukan strategi jitu untuk memperbaiki semester depan :

1. Pahami Zona Aman 
Sudah sedewasa ini, coba lihat perkembangan nilai kamu dari masa SD hingga Kuliah. Buat Grafik. Bidang manakah yang paling dominan mendapat nilai tinggi dan nilai rendah ? Fokuskan pada dua hal itu. Misal selalu cukup di nilai IPA sementara selalu tinggi di nilai matematika. Maka ke depannya kamu fokuskan untuk belajar pada mata kuliah yang ada kaitannya dengan dua bidang tersebut. Harapannya, kamu bisa jadi bintang yang kamu mumpuni sementara bidang yang kamu tidak mumpuni tidak mendapat nilai yang begitu buruk sehingga hasil akhirnya menjadi lebih baik. Bahasa kerennya, perkuatlah zona aman dan perbaikilah zona rendahmu.

2. Karakteristik Belajar
Setiap individu memiliki karakter yang berbeda, begitu pula cara belajarnya. Jika sudah tidak cocok dengan metode klasik yakni membaca, maka buatlah inovasi cara belajarmu sendiri. Ada kisah yang seru, kisahnya dari dosen waliku. Ceritanya dulu dosen waliku punya teman yang pada saat itu lulus tesis dengan sangat memuaskan. Bayangkan saja, dia bisa hafal kalimat tiap halaman ! Kuncinya ? Tentu saja dia punya strategi jitu. Olehnya dibuatlah sebuah rekaman suara pacarnya yang diminta khusus membaca satu buku tesisnya hingga selesai. Setiap hari rekamannya itu didengar. Maka jangan ditanya, ketika kekuatan doa, ikhtiar, cinta sekaligus kecerdikan dikombinasi, maka keajaibanlah yang akan terjadi. Sehingga sekali lagi carilah referensi sebanyak-banyaknya tentang karakteristik belajar, di sana akan ada lebih banyak penjelasannya, dan sesudah itu buatlah inovasi cara belajarmu sendiri !

3. Memahami Karakteristik Penilaian Dosen
Tidak usah menggerutu jika yang kamu alami saat ini adalah harus memahami tuntutan dosen. Sang dosen (Insya Allah) sudah memahami ilmu asesmen lebih fasih dari kita dan kadar antara materi yang disampaikan dengan apa yang akan diujikan. Sekarang tugas kita mau tidak mau adalah memahami karakteristik dosen. Misal dosen A suka tulisan yang padat merayap mirip kemacetan di Ibukota, ya usahakan buat jawaban yang seperti itu. Lain lagi dengan dosen B yang suka jawaban yang singkat, jelas dan padat atau dosen yang tidak peduli dengan hasil UTS atau UAS yang penting semua tugas selesai dan aktif di kelas. Karakter dosen memang beragam, tidak usah diratapi apalagi ditangisi. Buat strategi, tanya karakter dosen pada kakak kelas. Catat poin pentingnya. Buat daftar. Hal yang disukai dan tidak disukai sang dosen. Meskipun secara umum memang sistem penilaian itu nilai akhir = Nilai tugas + Nilai pop kuis + Nilai tes (monggoh diralat kalau salah, hhe).

4. Tertib Administrasi
Tertib di sini bukan hanya rajin ngumpulin tugas, tapi juga rajin bikin rekapan dan back up an tugas. Jangan sampai tragedi tugas hilang karena virus padahal deadline tinggal beberapa jam lagi, terjadi pada kamu. Atau sudah rajin ngumpulin tugas, eh pas lihat hasil studi ternyata nilai K. Pas konfirmasi ke dosen, jawabnya singkat, jelas dan padat “Tugas kamu belum lengkap”. Sontak kamu berontak bilang kalo sudah ngumpulin tugas, secepat kilat ditampik dengan satu pertanyaan maut “Buktinya apa?” Nah lho, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, belajarlah tertib administrasi, buat back up an tugas di CD, sehingga kalo ada apa masih aman. Selain itu bisa jadi arsip jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Nah untuk kejadian yang kedua, mulailah membuat rekap tugas, setiap kamu mengumpulkan tugas segera meminta tanda tanga dosen sebagai bukti telah mengumpulkan, bisa inisiatif individu lebih baik lagi jika klasikal.

5. Perbanyak Referensi Ilmiah
Tidak ada salahnya belajar dari sumber lain selain modul wajib. Justru dengan begitu akan semakin menambah khasanah pengetahuan kita. Saat ini kemajuan teknologi semakin memudahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja. Tapi perlu diingat, jadilah pembaca yang bertanggung jawab. Jangan asal memahami konsep dari sembarang blog. Pilah-pilah bacaan yang bermutu, misalnya jurnal ilmiah, buku elektronik, kalaupun dari blog, pastikan bahwa penulis blog yang kamu baca adalah ahli yang berkompeten di bidangnya.

Rasanya 5 strategi itu saja jika dilakukan dengan sungguh-sungguh sudah sangat membantu pencapaian target IP kamu. Sekali lagi, yang berarti bukanlah angka-angka tetapi ilmu apa yang kamu miliki. Tulisan ini juga sebagai pengingat si penulis yang terinspirasi dari materi bimbingan dari dosen wali yang selalu dinantikan nasihat-nasihatnya, Drs. Akhmad Junaedi, M.Pd. Semoga bermanfaat ! PGSD Unnes UPP Tegal angkatan 2010


PGSD Unnes UPP Tegal angkatan 2010
Senin, 28 Januari 2013

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Imron Rosyadi | Website by Kampus PGSD UPP Tegal - Fakultas Ilmu Pendidikan | Universitas Negeri Semarang